Minggu, 31 Agustus 2008

Be Strongest

Be Strongest !
Menjadi kuat, dan harus kuat…!!
Tak boleh menyerah, walau sedetik kan tetap kalah.
Tahan, tahanlah dari dirimu...
Untuk sebuah harga, untuk sebuah mimpi...
Telah berapa kali terombang ambing,
Hingga Robek dan rentas bercerita..
Biarkanlah tawa mereka...
Biarlah darah mengering pada belatinya...
Kuat, tetaplah kuat!!!
Untuk dirimu sendiri...
Tak perlu manjadi lilin,
Biarlah mereka hangus sendiri...
Lalu air menyusur tepi payung...
Tak perlu diambil, biar…

Senin, 25 Agustus 2008

MERDEKA HITAM PUTIH…

63 tahun sudah usia kemerdekaan bangsa kita yang tercinta ini dari tangan penjajah sejak diproklamasikan pertama kali oleh Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.
Kemerdekaan berasal dari kata “Merdeka” yang artinya bebas tanpa terikat atau tunduk terhadap kehendak yang bukan berasal dari diri kita. Dalam konteks sebuah negara, kemerdekaan adalah kebebasan untuk menentukan nasib sendiri nasib, arah dan tujuan bangsa tanpa harus tunduk pada negara lain.
Konsep tersebut tentunya telah begitu akrab dengan dunia kognitif kita, karena itulah yang disampaikan dalam teks-teks baku buku pelajaran produk dunia pendidikan kita. Kini bila kita tanyakan kepada masyarakat bangsa ini apakah kita sudah merdeka? Maka jawabannya akan sangat beragam dengan argumen yang juga bermacam-macam dari yang masuk akal sampai yang di luar akal (???). Jika tolak ukur kemerdekaan adalah penjajahan secara fisik terhadap bangsa kita dari bangsa lain, tentu jawabannya KITA SUDAH MERDEKA, namun jika tolak ukurnya di luar konteks tersebut, tentu jawabannya juga berbeda.
Kelompok idealis mengatakan kita masih belum merdeka, karena kehidupan berbangsa dan bernegara kita masih dikuasai oleh beberapa kelompok kecil yang dominan, kelompok kecil berselimut kain politik. Suara yang di dengar adalah suara mereka, bukan suara rakyat yang merasakan akibat-akibat dari kebijakan yang dibuat oleh kelompok kecil politik tadi.
Sedang bagi kelompok akademis (yang ini termasuk mahasiswa, dosen, dll..) jawabannya beda lagi, mereka menggunakan istilah kita baru mulai belajar untuk MERDEKA, karena banyak kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk mengisi kemerdekaan dengan mensejahterakan rakyat justru terkesan sebagai kebijakan yang gagap, tergesa-gesa sehingga arah dan tujuan menjadi tidak jelas dan selanjutnya menjadi sesuatu yang mubajir, menelan banyak dana untuk memperdebatkannya namun tak terpakai pada separo masa pelaksanaannya alias gagal total…
Lalu bagaimanakah kemerdekaan yang sebenarnya? Kemerdekaan yang sebenarnya adalah kemerdekaan yang didalamnya kita mempunyai kebebasan untuk memperbaiki diri, untuk memberikan simpati dan berempati terhadap musibah yang di alami oleh orang lain tanpa merasa sungkan, riya dan sombong. Bebas menyatakan ketidaksetujuan terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat. Kemerdekaan tersebut menjadi riil apabila di dalam masyarakat kita masalah-masalah kehidupan hanya dua warna yaitu hitam dan putih, bukan abu-abu…

Sabtu, 02 Agustus 2008

"cukup sampai disini..."

Manusia mudah terlupa, lupa terhadap apa yang terjadi...
semuanya!!!
yang berkesan atau pun tidak punya kesan sama sekali..
Lalu semuanya berulang, dan kita merasa seakan baru saja mengalaminya.
Namun itu hanya berlaku bagi suatu kesalahan, jika itu adalah kesenagan, atau kebahagiaan maka kita akan tertawa dan berkata " Aku adalah orang selalu diliputi kebahagiaan..."
Jika sebaliknya pernahkah kita menangis, atau cuma sekedar merenungi bahwa kita kembali terendam pada kesalahan yang sama?
Mampukah kita berkata " cukup sampai disini" untuk kesalahan dan kenistaan yang mungkin telah lebih dari dua kali kita lakukan...
Yang lalu biarlah berlalu adalah ungkapan tempat berlindung manusia-manusia kerdil yang tidak bisa lepas untuk terhindar dari kesalahan yang sama...
Jebakan bagi manusia-manusia yang tidak mampu berpikir bahwa kesalahan bukan sesuatu yang patut untuk dilestarikan dengan menganggapnya hanya sebagai kekhilafan buah dari kodrat manusia. Kekhilafan bukan untuk sekedar dimaklumi, namun juga dihindari untuk tidak terjadi lagi.
Beranikah kita mengutuki diri sendiri atas hilangnya saat-saat yang bisa kita gunakan untuk melkukan suatu kebaikan yang berarti bagi diri sendiri atau juga orang lain hanya karena kita melakukan suatu kesalahan yang sama?

Jumat, 13 Juni 2008

Yang kedua
Ini postingan yang kedua (semua pasti tau...)
masih bingung mo nulis apa.  Jadi sementara ngikutin apa yang ada dalam pikiran aza..(petuah ini diberikan oleh salah satu dosen waktu maktu masih kuliah dl.."tulislah pa yang ada dalam pikiran kamu" kata beliau dengan rambut gondrongnya).
Mo nulis ttg kenaikan harga BBM kyaknya udah banyak, dan ditulis seberapa pun juga harga BBM tetap naik.
Utang luar negeri? sami mawon, podowae...
jadi..............
ya itu pang nang ada di dalam kapala tadi, tulis ai iya kalu lih?
Lelaki kedua bukan berarti lelaki cadangan, hehe...
karena memang nggak ada hubungannya sama sekali dengan hal-hal tersebut, jadi kalo ada yang berpikiran mungkin ada hubungannya dengan pria selingkuhan, PIL atau de el el... selamat kecewa.
Tapi blog ini bukan untuk mengecewakan dan dikecewakan, tapi hanya sekedar mencoba untuk meluangkan waktu buat nulis apa yang ada dalam pikiran dan menggumpal dalam otak. Lelaki kedua hanyalah menunjukkan urutan kelahiran dalam hierarki keluarga, itu saja...
Mungkin ada diantara kita yang berstatus lelaki pertama, lelaki kedua, atau wanita keempat...
Jadi silahkan pilih status anda sendiri, mau jadi yang keberapa? mo jujur atau bo'ong nggak masalah :)
"So aku memang lelaki kedua kok"